AQUA

image

Sebuah ide kecil yang berasal dari kebutuhan pribadi, bisa menjadi bisnis besar. Hal itulah yang melandasi Tirto Utomo, seorang karyawan pertamina pada tahun 1973. Pak Tirto selalu mengadakan perjalanan Jakarta-Surabaya dengan menggunakan kereta api. Pada saat itu, yang disajikan hanyalah air kopi, susu, ataupun air teh. Pada suatu waktu Pak Tirto lupa tidak membawa bekal air. Padahal setelah makan di kereta, ia begitu membutuhkan air putih. Alhasil ia terpaksa membeli teh. Saat itu ia bertanya dalam hati, “kenapa tidak ada yang menyediakan air?”

Ide untuk menjadikan air dalam kemasan semakin muncul ketika pada suatu hari ia bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengkonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan. Alhasil hasrat Pak Tirto untuk membuat air kemasan semakin besar.

Pak Tirto kemudian meminta adiknya, Slamet Utomo untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan air minum di Thailand. Setelah membawa banyak ilmu dari sana, Pak Tirto dan saudaranya akhirnya membuka sebuah perusahaan air mineral pertama di Indonesia dengan nama perusahaan Golden Missisippi dan nama produk Puritas. Nama tersebut dipilih karena cocok dengan target pasarnya,   ekspatriat. Namun, di momen awal, penjualannya tidak terlalu berhasil. Hal ini diyakini salah satunya karena nama produk tersebut terdengar aneh di telinga orang Indonesia. Akhirnya Pak Tirto, dibantu konsultannya, Eulindra Lim, mengubah namanya menjadi Aqua. Inilah produsen pertama air mineral di Indonesia.

Kegiatan fisik perusahaan dimulai pada bulan Agustus 1973, ditandai dengan pembangunan
pabrik di kawasan Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat. Percobaan produksi
dilaksanakan pada bulan Agustus 1974 dan produk komersil dimulai sejak
tanggal 1 Oktober 1974 dengan kapasitas produksi 6 juta liter setahun.

Produk pertamanya adalah Aqua botol kaca 950 ml (packaging botol kaca benar-benar mengikuti perusahaan Polaris yang juga menggunakan kaca) yang kemudian disusul dengan kemasan Aqua 5 galon, pada waktu itu juga masih terbuat dari kaca. Tahun 1974 hingga tahun 1978 merupakan masa-masa sulit karena masih rendahnya tingkat permintaan masyarakat terhadap produk Aqua. Dengan berbagai upaya dan kerja keras, Aqua mulai dikenal masyarakat, sehingga penjualan dapat ditingkatkan dan akhirnya titik impas berhasil dicapai pada tahun 1978. Pada tahun tersebut harga jualnya perkemasan Rp.75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml.

Pada tahun 1982, Pak Tirto mengganti air yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring ) karena dianggap mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium. Selain itu, kemasan kaca sudah tergantikan oleh plastic yang lebih mudah untuk dibawa.

Masih pada tahun yang sama, konsep penjualan diubah menjadi konsep delivery door to door   khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman langsung  Aqua . Konsep pengiriman ini menggunakan kardus-kardus dan galon-galon serta menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan  Aqua  s ecara konsisten menanjak. Hal ini membuat angka penjualan  Aqua   mencapai dua triliun rupiah di tahun 1985.

Sebelumnya, pada tahun 1984, pabrik Aqua kedua didirikan di Jawa Timur. Hal ini ditujukan untuk mendekatkan diri pada konsumen yang berada di wilayah tersebut. Setahun kemudian, terjadi pengembangan produk  Aqua   dalam bentuk kemasan PET 220 ml, dengan bahan plastic yang lebih aman. Pengembangan ini membuat produkAqua   menjadi lebih berkualitas dan lebih aman untuk dikonsumsi.

Semakin berkembang, pada tahun 1995,  Aqua   menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in-line , yakni pemrosesan air dan pembuatan kemasan yang dilakukan bersamaan. Hasil sistem  in-line   ini adalah botol Aqua yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi sehingga proses produksi menjadi lebih higienis

Pada 1998, pesaing-pesaing Aqua mulai bermunculan. Hal ini membuat Lisa Tirto, yang didaulat sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal ayahnya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada September 1998. Akusisi tersebut dianggap tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman pesaing baru. Dengan ‘bekerja sama’ dengan Danone, terjadilah peningkatan kualitas produk, salah satunya dengan diversifikasi produk. Beberapa produk baru yang lahir adalah Aqua Splash of Fruit dan Mizone. Hal ini semakin menguatkan Aqua sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia.

Aqua betul-betul membuktikan kepada kita, bahwa ide kecil yang ditunjang kebutuhan banyak orang akan menjadi karya masterpiece, jika kita berusaha merealisasikannya.

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Menu Utama
SLINK
My Links
Iklan Anggota

 

Klik untuk info lebih lanjut

 

RuMAH PARENTING

(gRup Miracles At Home PARENTING)

Buku - Seminar - Konsultasi - Artikel

www.rumahparenting.com

CP : Ine 085722664373

 

Clodi

Copyright © 2017 BV Wirausaha · All Rights Reserved